Rabu, 18 Agustus 2010

Fenomena Tari Kontemporer

FENOMENA KONTEMPORER DALAM KARYA TARI MAHASISWA

JALUR TA PADA JURUSAN SENDRATASIK FBSS UNP

DAN STSI PADANG PANJANG

Indrayuda

Dosen FBSS Universitas Negeri Padang

Abstrak: Artikel penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menganalisis fenomena kontemporer yang terdapat dalam karya tari mahasiswa sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang melalui Tugas Akhir (TA). Dengan menfokuskan pada fenomena dan penyebab kecenderungan mahasiswa menganggap karya dengan pola garap dalam bentuk kontemporer. Temuan dalam penelitian ini mengungkapkan adanya kecenderungan yang dilakukan mahaiswa pada setiap menggelar dan menggarap karya tari dalam tugas akhir mereka, menggunakan model penyajian tari dalam wujud kontemporer. Aspek-aspek yang ditemukan adalah pada bentuk pola garap, tipe tari yang digunakan, konsep bentuk penyajian dan orientasi garapan. Gejala kontemporer ini berkembang di kalangan mahasiswa, melalui temuan penelitian disebabkan oleh seringnya mahasiswa dan dosen terlibat dalam pelbagai forum tari yang bersifat kontemporer, sering para dosen baik di Sendratasik FBSS UNP maupun pada Jurusan Tari STSI Padang Panjang melibatkan mahasiswa dalam beberapa karyanya, ataupun mengirim mahasiswa untuk mengapresiasi karya tari kontemporer dalam pelbagai forum tari. Selain daripada itu mahasiswa juga selalu dilibatkan dalam pelbagai workshop tari kontemporer dengan koreografer kontemporer nasional maupun internasional. Selain dari pada itu sosok figur seorang dosen yang selalu berkarya dalam bentuk pola garap kontemporer menjadi sebuah rangsangan ide dan kinestetik bagi mahasiswa, sehingga realitas ini menjadi suatu dorongan bagi mahasiswa untuk menggarap atri dengan pola kontemporer.

Kata kunci : fenomena kontemporer, karya tari mahasiswa, pola garap dan jalur TA

Pendahuluan

Seni tari yang pada dahulunya merupakan warisan budaya yang tersimpan dan terpelihara dalam kantong‑kantong budaya etnik tertentu, merupakan ungkapan dari pribadi masyarakat pendukungnya secara kolektif. Secara konvensi tari pada masa lalu harus memuat berbagai kepentingan untuk kebersamaan, di mana tari dapat dinikmati secara bersama. Dalam komunitasnya, dan seluruh simbolisasi dalam tarian tersebut merupakan milik komunitas tersebut, yang pemaknaannya dapat mereka interpretasikan secara bersama‑sama pula (Arbi, 1999:175)

Globalisasi yang mempersempit ruang dan waktu, di samping ideologi baru, pada kenyataannya menimbuikan suatu perubahan dalam cara pandang manusia terhadap hidup dan kehidupan. Globalisasi juga merubah cara pandang manusia terhadap sistem‑sitem sosial, politik, ekonomi dan sistem budaya, tidak terkecuali kesenian (Juprianto, 1999, 25).

Tidak terasa perubahan terhadap masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, masyarakat dengan pola tradisi menjadi modernisasi, begitu juga akibat adanya evolusi ilmu pengetahuan yang mengakibatkan pola pikir naluriah berganti dengan pola pikir rasionalisasi. Kaum naluriah yang disebut masyarakat tradisi saat ini menjadi masyarakat yang berorientasi pada rasio dan empiris dalam memandang sesuatu baik aktivitas maupun hasil cipta masyarakat tersebut (Sepriono, 2000: 3).

Fenomena dan trend globalisasi seperti tidak bisa dilepaskan dengan kemajuan peradaban manusia. Kemajuan peradaban tersebut disebabkan oleh lajunya pertumbuhan ilmu dan pengetahuan. Maraknya perkembangan sain (ilmu) membuat pola hidup manusia dalam bermasyarakat dan berbudaya mengalami perubahan. Perubahan dalam sistem sosial seperti bermasyarakat dengan sistem komunal bergeser kepada bermasyarakat dengan pola individual.

Dewasa ini tari dan senimannya mengalami evolusi, dari marginalisasi berevolusi ke sentralisasi, dari kantong‑kantong tradisi bergeser ke kantong­kantong industri dan akademik. Perubahan juga disebabkan karena seni tari sudah merupakan bahan studi dan kajian secara akademis, taripun menjadi objek laboratorium di studio‑studio akademisi seni di Indonesia dan berbagai belahan dunia. Sehingga bermunculan labor‑labor tari dan studio tari di berbagai tempat di Indonesia.

Akademisi tari membangun suatu pertumbuhan tari dengan menggelar berbagai workshop‑workshop dan eksperimen dengan melibatkan unsur seniman otodidak dan dari jalur kesenian lainnya. Kehadiran workshop atau bengkel‑bengkel tari tersebut melahirkan berbagai fenomena‑fenomena baru dalam perkembangan dunia tari di Indonesia. Workshop‑workshop tersebut memunculkan berbagai kemung­kinan dalam persoalan penciptaan dan teknik tari. Eksperimen yang dilakukan antar seniman baik akademisi maupun otodidak melahirkan trend baru dunia tari, yang saat ini cenderung disebut kontemporer (Wismayati, 1992: 17).

Dunia tari sekarang tidak lagi tumbuh dari akar tradisi atau dalam kegiatan ritual, seremonial maupun kegiatan religius saja, tetapi tari tumbuh dari ekspresi individu per individu. Tari tidak harus tumbuh dari kepentingan suatu komunitas tertentu saja, yang lebih dilakukan untuk suatu kebutuhan agama dan adat istiadat. Saat ini tari lebih berkembang pada kepentingan ekonomi, sosial politik dan ilmu pengetahuan.

Tari dipandang saat ini tidak saja berolah sukma. Kenyataannya tari tidak lagi sebatas keindahan estetika yang kasat mata, akan tetapi tari sudah menjelajah dunia seni lainnya, sebut saja teater dan Seni Rupa. Banyak ditemukan penyajian tari dalam sebuah festival atau pergelaran yang terlihat mengadopsi konsep‑konsep atau idiom seni lainnya.

Susah dewasa ini membedakan antara penyajian tari dan teater. Fenomena di atas sering akhir‑akhir ini menjadi trend para seniman individual. Kalangan pengamat seni menyebut fenomena tersebut sebagai fenomena kontemporer. Ternyata tari tidak tunduk lagi pada norma dan etika kolektif pada satu komunitas saja, tari bisa mengakulturasi dan meng­kolaborasi normatif yang ada di berbagai etnik maupun komunitas, atau sama sekali tidak terikat dengannya. Sesuatu yang penting adalah mengutamakan keinginan dan gagasan kreator atau koreografernya, terserah di mana ia berpijak (Murgianto, 1993:229).

Tari saat ini tidak saja berfungsi sebagai seni yang terpakai, tetapi tari juga dapat berfungsi sebagai seni yang bermuatan. Seni muatan dapat mengungkapkan fakta‑fakta sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Seni muatan, menyampaikan gagasan‑gagasan yang berperan untuk mengungkapkan kejadian, mengusulkan atau memberikan sumbangan pikiran terhadap masyarakat penontonnya.

Lebih lanjut dewasa ini, koreografer Indonesia ataupun Sumatera Barat, baik yang akademisi maupun otodidak, cenderung berorientasi ke bentuk seni rnuatan. Seni tari muatan yang juga merupakan tipikal dari bentuk seni tari kontemporer. Seni tari kontemporer pada prinsipnya lebih menyajikan bentuk‑bentuk yang aktual dan gagasan kontekstual. Tari kontemporer lebih bersifat kepemilikan pribadi yang sangat individual.

Menjadi persoalan dalam tulisan ini adalah cenderung koreografer­koreografer baik otodidak maupun akademisi kurang memahami prinsip-­prinsip kontemporer, baik secara esensi maupun secara substansi. Apalagi dalam mendefinisikan tari kontemporer sebsagai sebuah karya tari yang bermuatan. Namun mereka tetap saja intensif dengan menggarap karya tari dengan pola garap kontemporer, apakah mereka paham dan mampu menjelaskan makna dari sebuah karya tari kontemporer itu persoalan lain, yang penting mereka menurut mereka sendiri mampu menggarap sebuah kary tari dengan pola garap kontemporer. Sering para mahasiswa mengaktualisasikan dirinya dengan sebutan koreografer muda kontemporer, padahal secara esensi sebahagian besar ada yang belum tuntas dalam memahami esensi kontemporer itu sendiri, namun sehingga kini selalu saja mahasiswa tidak bergeming dengan menggarap karya tari pada tugas akhirnya (ujian kesarjanaannya) dengan garapan karya tari kontemporer.

Persoalan di atas perlu untuk ditindaklanjuti dalam kajian atau penelitian, sebab itu penelitian ini akan mengkaji permasalahan di atas yang difokuskan pada fenomena kontemporer yang terdapat dalam karya tari mahasiswa Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang, di mana hal tersebut dilihat dari hasil ujian TA mereka. Fenomena kontemporer ditelusuri melalui berbagai pola garap dalam komposisi dan koreografi mereka secara keseluruhan dalam satu kesatuan.

Rumusan Masalah

Masalah utama yang akan ditelusuri dalam penelitian ini, adalah masalah sejauh mana koreografer dapat memuat fenomena‑fenomena kontemporer dalam karyanya, disamping itu kenapa timbul kecendrungan mahasiswa untuk menggarap karya tari kontemporer. Merujuk uraian di atas banyak di antara koreografer‑koreografer masa kini yang menyajikan karya tarinya dengan pola garap kontemporer, terutama koreografer yang berasal dari akademisi. Namun Selain belum kongkritnya alasan mereka tentang kecendrungan menggarap karya tari kontemporer, merekapun belum mampu secara konseptual menjelaskan esensi dari kontemporer tersebut. Akan tetapi trend garapan kontemporer ini sulit dibendung dalam kreatifitas mahasiswa Sendratasik FBSS UNP dan STTSI Padang Panjang.

Berdasarkan permasalahan di atas, dapat diajukan pertanyaan yang akan diteliti dan ditelusuri, untuk itu perlu masalah tersebut dirumuskan sebagai berikut: “ Apakah ada fenomena kontemporer dalam karya tari Mahasiswa TA Sendtratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang, dan Apakah penyebab kecendrungan mahasiswa lebih memilih menggarap karya tari kontemporer”

Artikel merupakan sebuah hasil penelitian karya ilmiah yang bertujuan untuk mengungkapkan adanya fenomena kontemporer dalam karya tari Mahasiswa TA Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang. Selain dar itu bertujuan untuk menganalisa kenapa terjadi kecendrungan mahasiswa sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang menggarap karya tari kontemporer.

Kajian Literatur

Pengaruh Perubahan Sains,Sosial Budaya Terhadap Tari

Adanya perkembangan dalam pengetahuan tari di dunia akademik, menyebabkan berkembangnya pula kreativitas dan atmosfir tari di luar akademik. Pengetahuan dapat menentukan arah kebudayaan, sebaliknya kebudayaan tersebut dapat menghasilkan suatu pengetahuan, yang selalu berkembang ke depan. Dunia tari merupakan suatu bagian dari kebudayaan yang mau tidak mau harus berhubungan dengan pengetahuan.

Parson (dalam Sepriono, 2000: 17) menjelaskan bahwa dalam suatu kehidupan manusia, mereka terjalin dalam satu mata rantai, baik dipengaruhi oleh eksternal maupun internal. Kedua faktor tersebut menunjang manusia untuk berbuat, dan kedua faktor tersebut berfungsi saling mengikat, seperti dalam sistem sosial. Lebih lanjut Wismayati (1992: 28) menjelaskan bahwa dunia seni seperti halnya dunia tari, berkembang secara progresif seiring perubahan sosial budaya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Di samping itu, perubahan dan perkembangan pada seni tari bagi senimannya akhir‑akhlr ini, dimulai dari penemuan‑penemuan baru di laboratorium (studio) tari, yang dilakukan oleh kalangan akademik.

Penegrtian Kontemporer

Putu Wijaya (dalam Yuda, 2003: 3) menjelaskan kontemporer sebagai suatu bentuk karya seni yang mengandung arti, misi, gebrakan bahkan cukup dengan percobaan. Kontemporer berarti juga suatu usaha seniman untuk membebaskan diri dari kungkungan waktu, tempat, situasi dan nilai‑nilai usang (tradisi). Seni kontemporer tidak lebih dari pertunjukan cita rasa pembebasan berekspresi. Wujud dari seni kontemporer dapat berupa eksperimental yang merupakan suatu usaha untuk mencari idiom‑idiom dan bahasa pengungkapan baru.

Lebih lanjut Putu Wijaya mengatakan, bahwa konsep kontemporer selalu membebaskan diri dari kemacetan pada satu nilai yang semula dianggap sebagai sumber dari segalanya. Seni kontemporer menabrak patron yang ada sehingga tidak tercegah dan tidak dapat disekap dari hukum kehidupan, seni kontemporer selalu bergerak mengikuti nafas, waktu, ruang serta berbagai kemajuan zaman yang tak henti‑hentinya, dan terus tumbuh ke depan. Seni kontemporer merupakan usaha untuk mengaktualisasikan diri, agar sesuai dengan zaman yang melingkupinya. Sehingga masalah yang dihadapi oleh kontemporer adalah hal‑hal yang kontekstual, dengan konteksnya maupun persoalan yang sedang aktual.

Tari Kontemporer

Pandangan lain dari Hidayat (1994: 15) terhadap tari kontemporer adalah terletak pada pencarian nilai‑nilai baru oleh koreografernya. Pencarian nilai‑nilai baru selalu bergulir dari satu produk ke produk lainnya, sehingga pencarian tidak menjadi hal yang monumental atau klasik, hal ini yang disebut temporer.

Pencarian tersebut bukan saja dari penjelajahan terhadap tubuh, ruang dan waktu, juga pencarian dengan menjelajah terhadap berbagai kemungkinan baru dari segi pola garap, komposisi maupun segala unsur penunjang dari sebuah pertunjukan tari.

Tari kontemporer bukan saja menjelajah tubuh sebagai media gerak dengan menghasilkan bentuk‑bentuk baru, akan tetapi tari kontemporer juga menjelajahi sumber‑sumber tradisi. Kenyataan dewasa ini sumber‑sumber tradisi menjadi trend pada koreografer kontemporer sebagai bahan garapannya dalam melahirkan sebuah koreografi baru.

Merujuk pendapat Hidayat tersebut, ternyata tari kontemporer bukan berarti meninggalkan begitu saja persoalan tradisi, akan tetapi vocabulary tradisi masih menjadi bahan olahan, atau sumber garapan walau seni kontemporer bersifat individual.

Di satu sisi Andra (1997: 19) menjelaskan bahwa seni tari kontemporer selalu bersifat aktual. Artinya persoalan atau gagasan yang dituangkan dalam tari kontemporer selalu baru, atau kekinian, baik cerita, bentuk maupun pola garap. Cenderung tari kontemporer mengusung persoalan yang humanitis, terdorong oleh persoalan kemanusiaan.

Tari kontemporer atau seni kontemporer, bukanlah bersifat wester­nisasi, dalam artian harus berorientasi ke dunia barat, namun yang dapat menyangkut nilai‑nilai lama dalam tampilan yang baru dan segar. Kontemporer tidak terikat dengan aturan‑aturan yang baku dalam tari tradisi atau tari klasik.

Seni kontemporer bukanlah mencampakkan vocabulary atau nilai‑nilai tradisi, akan tetapi sebaliknya karya kontemporer lebih banyak menggali nilai­-nilai tradisi dan mengungkapkannya kembali dengan suatu pemahaman baru yang inovatif, dengan didorong oleh kebebasan berekspresi. Akhir dari tindakan tersebut terlihatlah nuansa tradisi tetapi merupakan nilai‑nilai baru dan menjadi kepemilikan pribadi senimannya (Soedarso, 1992:19).

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan asumsi‑asumsi penelitian kualitatif dalam sifatnya mengungkap persoalan yang bersifat fenomenologis, dengan latar alamiah. Dalam hal ini, kenyataan fenomena budaya dalam penggarapan karya tari (koreografi) dijadikan sebagai sasaran untuk memahami tari kontemporer dalam segi pola garap dan komposisi. Untuk memahami adanya pengaruh fenomena kontemporer dalam karya tari mahasiswa Sendratasik dan STSI Padang Panjang jalur TA dilakukan beberapa metode meliputi Studi kepustakaan, etnografis, dan studi dokumentasi.

Pada tahap awal dilakukan upaya penelusuran terhadap hasil‑hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan. Beberapa hasil penelitian terkait seperti yang dikemukakan pada bagian studi kepustakaan sebelumnya. Hasil penelitian itu dapat memberikan inspirasi untuk menelusuri bagaimana kenyataan bentuk‑bentuk dari koreografi kontemporer dan menelusuri proses penggarapannya. Untuk mempertajam faktualitas data maka studi kepustakaan itu mendorong penulis untuk melakukan suatu etnografi dan analisis komposisi yang terbatas pada dua kawasan. Pertimbangan teoritisnya adalah kawasan pola garap dan komposisi tari dan presentasi dari pertunjukan karya tari. Tentu hal ini dipandang bermanfaat untuk meraih deskripsi yang lebih konkret atas realitas fenomena‑fenomena kontemporer yang mempengaruhi bentuk karya tari tersebut.

Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan kebutuhan penelitian ini, data dikumpulkan melalui data kepustakaan, dan data lapangan. Data kepustakaan difokuskan pada sumber‑sumber yang dianggap relevan dengan topik penelitian, kemudian berupaya menemukan literatur yang memuat konsep‑konsep dan teori yang berhubungan dengan objek penelitian, guna dijadikan sebagai landasan untuk menganalisis data‑data penelitian.

Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui beberapa teknik. Untuk menelusuri gambaran sistem sosial budaya dan fenomena budaya dilakukan studi kepustakaan dan observasi terlibat. Untuk menelusuri pola garap dan komposisi serta pertunjukannya dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi mendalam. Demikian juga untuk mendapatkan gambaran tentang proses penciptaan dilakukan dengan wawancara dan observasi terlibat.

Di samping dengan teknik yang dilakukan di atas juga dilakukan dengan bantuan peralatan seperti kamera video, kamera photo dan peralatan audio atau recorder. Dalam melakukan wawancara, peneliti menemui aktor dari pelaku pertunjukan tari tersebut seperti pelatih koreografer, penari, pemusik, pimpinan kelompok tari, beberapa masya rakat dan beberapa seniman pelaku serta kritikus tari.

Instrumen Penelitian

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dengan menghindari tendensius dan memperturutkan perasaan, untuk itu peneliti tetap mengutamakan kejernihan pikiran, ini merupakan upaya yang sangat harus diperhatikan. Hal dimaksud bertujuan untuk menjamin keobjektifitasan penelitian, dengan tujuan agar tidak mempengaruhi “natural setting” dan latar penelitian. Instrumen lain seperti: buku catatan, alat pencatat, camera video, camera foto, dan tape recorder yang keseluruhannya bersifat melengkapi instrumen utama.

Analisis Data

Analisis kawasan merupakan cara berpikir yang sistematis memberikan atau menguji sesuatu untuk menentukan hubungan antar bagian serta hubungan bagian‑bagian dengan keseluruhan pertunjukan koreografi dan keberadaannya di tengah masyarakat penonton dan masyarakat akademik di Jurusan Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang. Dalam penelitian ini analisis kawasan mengidentifikasikan beberapa kawasan di antaranya (1) jenis‑jenis aktor, (2) jenis objek fisik yang tercakup dalam proses pemaknaan tari dalam kehidupan masyarakat penonton dan akademis, (3) jenis‑jenis tindakan yang dilakukan oleh para aktor, (4) jenis‑jenis jalannya penyajian atau pelaksanaan tari, (5) jenis‑jenis periode waktu yang dipergunakan dalam penyajian tari, (6) jenis‑jenis tempat yang digunakan dalam kegiatan aktor, (7) jenis syarat atau aturan yang berlaku dalarh penyajian tari, (8) jenis‑jenis struktur penyajian tari.

Teknik Penjaminan Keabsahan Data

Untuk memperkuat kesahihan data hasil temuan dan otensitas, maka oleh sebab itu peneliti dalam hal ini mengacu kepada penggunaan standar keabsahan data yang terdiri dari: (1) kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) dapat dipertanggungjawabkan (dependenbility), (4) penegasan atau kepastian (confirmability).

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Profil Dosen Koreografi Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang

Profil dosen Koreografi di Sendratasik FBSS UNP, tidak satupun yang bisa disebut seniman, baik bertaraf lokal, nasional dan internasional. Walaupun dosen tari dari FBSS UNP ada juga yang disebut seniman, malah bertaraf internasional seperti Indrayuda yang cukup dikenal oleh seniman tari dalam dan luar negeri, akan tetapi Indrayuda tidak selalu secara kontiniu mengajar mata kuliah koreografi. Persoalan ini disebabkan oleh kebijakan pimpinan jurusan Sendratasik. Ada kesan pimpinan jurusan di Sendratasik sengaja menyebar dosen tari ke berbagai mata kuliah, sehingga dosen tersebut mendapat pengalaman yang lain dari mengajar mata kuliah tersebut.

Para dosen sendratasik dalam proses belajar mengajar, jarang yang terlihat memaksakan kehendak, seperti mahasiswa bimbingannya harus sedikit ditekan untuk mengikuti gayanya, atau harus mengikut pada ide-idenya. Sisi positif ini muncul disebabkan karena Jurusan Sendratasik adalah Jurusan (institusi) yang masih melahirkan para guru, disisi lain para dosennya rata-rata bukan berprofesi seniman (Koreografi) diluar akademis sehingga mereka tidak memiliki ego seniman dalam mengajar mahasiswa. Dalam berbagai pemberian contoh materi, sering dosen Koreografi Jurusan Sendratasik FBSS UNP memberikan contoh yang lebih universal, ataupun lebih global, baik tentang karya tari tradisi dari berbagai daerah dan negara, begitu juga dengan karya kontemporer.

Suatu hal lagi, Sendratasik berada di Pusat Kebudayaan Sumatera Barat, dengan Taman Budaya sebagai barometer pertumbuhan tari Sumatera Barat dan Indonesia bagian barat. Dengan adanya Taman Budaya, para dosen Koreografi memberikan banyak waktu untuk mahasiswa berapresiasi dengan banyak pilihan, dan memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk kerja mandiri. Tugas mandiri ini secara periodik pertiga minggu selalu dipantau dan dievaluasi oleh masing-masing dosen pembimbing mereka

Profil lain dari dosen Koreografi yang dipaparkan adalah STSI Padang Panjang. STSI Padang Panjang merupakan sebuah institusi seni yang bergerak di bidang ilmu murni. Hampir 98% para dosen tari di STSI Padang Panjang lulusan berbagai perguruan tinggi seni di Jawa (Yogya dan Solo) serta STSI Denpasar Bali, hanya 2 orang saja yang berijazah Sarjana Pendidikan tari lulusan Sendratasik FPBS IKIP Padang.

STSI Padang Panjang juga menghasilkan saat ini 7 (tujuh) orang Koreografer akademik, seperti Indra Utama, Syaiful Herman, Rasmida, Susarita Lora Fianti, Martion, Sawasnimar dan Ninon Syofia. Ketujuh dosen tersebut memegang mata kuliah Koreografi, dimana mata kuliah Koreografi adalah mata kuliah yang mempelajari tentang penciptaan tari. Diantara ketujuh dosen yang juga seniman tersebut ada tiga orang yang telah berkiprah dalam percaturan tari di Internasional, yaitu Indra Utara, Syaiful Herman, dan Susarita Lora Fianti.

Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan, ada kalanya dalam proses belajar mengajar dosen Koreografi yang sekaligus seniman ini sedikit banyaknya memaksakan mahasiswa dalam melahirkan karya cipta tari mengikuti gaya mereka masing-masing. Namun sebagian mahasiswa ada juga yang keluar dari gaya dosen mereka. Pada dasarnya pemaksaan tersebut tidak berupa manifes (langsung) tetapi secara laten, seperti percontohan-percontohan karya karya mereka, cara pembimbingan yang agak mengarah kepada gaya Koreografi mereka. Disisi lain terlihat juga sikap ngotot dosen dalam berdialog dengan mahasiswa menggiring kepada ide-ide mereka. Akan tetapi tidak seluruh dosen Koreografi yang terlihat kaku dan ego dengan diri mereka, dalam membimbing mahasiswanya. Sebagai contoh ada juga dosen yang fleksibel seperti Syaiful Herman, Martion, Ninon Syofia. Dosen ini memberikan kebebasan kepada mahasiswanya untuk memilih gaya atau pola garap koroegrafi sesuai selera dan keinginan mereka.

Keberadaan Festival dan Forum Tari di Sumatera Barat

Berbagai forum dan festival sudah menjadi agenda tetap bagi Sumatera Barat baik yang dilaksanakan oleh Badan Kesenian Pemerintah seperti UPTD Taman Budaya, maupun oleh NGO seperti Nan Jombang Group, Dewan Kesenian Padang, Dewan Kesenian Sumatera Barat dan World Dance Alliance Asia Pacifif Chapter West Sumatera (Sumbar), Indojati Group dan Tantra Dance Theatre, maupun oleh perguruan tinggi seni di Sumatera Barat seperti STSI Padang Panjang dan Sendratasik FBSS UNP. Forum dan festival tersebut ada yang berbentuk pagelaran, diskusi, workshop dan ada pula yang bersifat lokakarya.

Forum temu Koreografi biasanya diadakan oleh Taman Budaya dengan menggelar paling sedikit 4 (empat) karya tari dari empat Koreografer, baik Sumatera Barat maupun nasional. Sementara NGO yang lain sering melakukan kegiatan workshop tari dan diskusi atau bedah karya tari, seperti Tantra Dance Theatre, dan Indojati. NGO yang terbaru adalah WDA West Sumatera mengadakan kegiatan West Sumatera Dance Festival yang bertempat di STSI Padang Panjang. Disamping itu banyak Koreografer secara mandiri mengadakan pergelaran tunggal di Taman Budaya, baik Koreografer dari Tantra Dance Theatre maupun dari Nan Jombang Group.

Berbagai kegiatan tersebut seperti Forum Tari, Festival dan workshop, kolaborasi, pergelaran tunggal, diskusi dan seminar, merupakan ajang apresiasi, membagi pengalaman, dan sebagai tolak ukur bagi insan tari Sumatera Barat, termasuk mahasiswa dari Sendratasik maupun STSI Padang Panjang. Kegiatan tersebut ada yang berskala internasional seperti Gelanggang Tari Sumatera, West Sumatera Dance Festival, Seminar Etnokoreologi, kolaborasi yang diadakan oleh Nan Jombang dan Tantra Dance Theatre bersama Koreografer dari Amerika, Inggris dan Indonesia sendiri.

Kegiatan ini pada gilirannya merangsang munculnya fenomena dalam sikap, perilaku, dan karya tari serta gagasan dari seniman tari di Sumatera Barat, baik yang otodidak maupun yang berlatar belakang akademis. Iklim tari seperti ini memberikan suatu sumber apresiasi, inspirasi, rangsangan-rangsangan imajinasi, baik secara audiovisual maupun kinetis.

Pengalaman Kesenian Yang Dialami Mahasiswa

Pengalaman kesenian mahasiswa di perguruan tinggi dilihat dari keterlibatannya dengan berbagai peristiwa tari yang dikelola oleh masing-masing jurusan (Sendratasik dan STSI Padang Panjang). Disamping itu, keterlibatan mahasiswa secara pribadi dengan dosen yang berprofesi sebagai Koreografer. Dalam penelitian yang dilakukan, pengamatan lebih terfokus pada bagaimana pengalaman yang dilakukan mahasiswa secara pribadi dalam kerjasamanya mendukung garapan karya tari dosen mereka. Kegiatan ini baik yang dilakukan oleh dosen sendratasik FBSS UNP, maupun dosen tari STSI Padang Panjang.

Secara pribadi mahasiswa yang sedang mangambil mata kuliah Koreografi, yang pada gilirannya akan menempuh kesarjanaannya melalui ujian TA (Tugas Akhir Penciptaan Tari), tanpa diminta atau diajak serta, sering menawarkan diri untuk menjadi penari dalam karya cipta dosen mereka. Alasannya, karena mereka lebih dapat melalui pengalaman secara langsung bagaimana dosen mereka berkarya dan berkesenian. Ada beberapa hal yang akan mereka petik, diantaranya: (1) cara kerja (proses Koreografi), (2) penuangan konsep, (3) pengelolaan manajerial garapan, (4) cara eksplorasi (cara kerja), (5) pola garap Koreografi dan (6) kerjasama tim (antara penari, Koreografer dan penata musik).

Sisi positif dari persoalan ini adalah, dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa sendiri, untuk secara langsung terlibat dalam proses penciptaan tari yang dilakukan oleh dosen mereka sendiri. Adanya keterlibatan mahasiswa dalam karya dosen, walau tidak keseluruhan mahasiswa yang mampu atau terpilih, paling tidak terjadi dialog atau saling tukar pikiran yang berkisar tentang persoalan pencitaan tari. Selama ini mereka dibatasi oleh struktur dosen dan mahasiswa, akan tetapi pada kesempatan ini mereka adalah dalam hubungan Koreografer dan penari. Kedua struktur tersebut harus saling kerjasama dan satu kesatuan bahasa, untuk tercapainya sebuah hasil ciptaan tari yang utuh untuk digelarkan.

Sebagian diantara mahasiswa juga mendapatkan pengalaman berkesenian di luar kampus. Ada diantara mereka yang menjadi penari di berbagai sanggar tari di Padang, Padang Panjang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Mereka tergabung mulai dari sanggar yang bersifat amatir hingga yang bersifat semi profesional. Keterlibatan mereka juga beragam, ada yang paruh waktu dan ada juga yang penuh waktu. Maksudnya menjadikan sanggar sebagai tujuan utama, tetapi ada juga yang begitu mengutamakan kegiatan sanggar daripada kegiatan perkuliahan di kampus.

Selain beraktifitas di berbagai sanggar tari, mahasiswa juga membantu atau bekerjasama dengan seniman pribadi, seperti para Koreografer di luar kampus. Mahasiswa belajar menjadi seorang yang profesional, walau kualitas mereka belum begitu terukur, akan tetapi sikap dan perilaku mereka sudah mengarah ke arah profesional. Pada kesempatan lain mahasiswa sendratasik dan STSI Padang Panjang juga ikut membantu beberapa karya tari Koreografer nasional seperti Tom Ibnur. Pengalaman ini menjadikan pemahaman baru bagi mereka terhadap proses garapan dan pola garap karya tari. Mereka bukan saja mendapatkan keterampilan baru, akan tetapi juga pengetahuan baru tentang Koreografi.

Fenomena Kontemporer Dalam Karya Tari Mahasiswa TA Sendratasik FBSS dan STSI Padang Panjang

Dekade sejak berdirinya Institut Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki, apalagi ditunjang dengan keberadaan Taman Budaya di seluruh Indonesia, menjadikan atmosfir pertumbuhan tari di Indonesia semakin menemukan jati dirinya. Apalagi semenjak kepulangan Bagong Kusudiarjo dan Wisnu Wardana belajar tari modern di Pusat Pelatihan Tari Martha Graham di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. Yang lebih dahsyat adalah semenjak Sardono Waluyo Kusumo menggarap Tari Meta Ekologi, dimana Sardono menggarap tari dalam lumpur di TIM pertengahan tahun 1970-an. Dunia tari Indonesia semenjak itu semakin bebas menjelajahi bentuk-bentuk baru, yang dikenal dengan kontemporer.

Menurut Humprey (1983:21) menjelaskan kedekatan seseorang dengan tokoh tari yang mereka kagumi, dimana kekaguman menimbulkan suatu penilaian yang dapat meransang suatu kreativitas atau motivasi untuk berkarya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada beberapa Karya Tari Mahasiswa Jalur TA, dapat ditelusuri Fenomena Kontemporer dalam karya-karya tersebut. Analisa diarahkan pada berbagai aspek untuk menjelaskan fenomena tersebut: (1) Aspek tersebut ditinjau dari profil dosen masing masing di Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang, (2) Ditinjau kepada aspek Fenomena Karya Tari Seniman Tari Sumatera Barat, (3) Adanya berbagai festival dan Forum Tari di Sumbar baik bertaraf nasional dan internasional, dan (4) adalah keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kesenian di kampus dan diluar kampus.

Keempat aspek tersebut dihubungkan dengan karya tari yang mereka ciptakan dalam ujian TA. Melihat karya yang mereka ciptakan ditemukan 4 (empat) indikator penting untuk melihat fenomena kontemporer dalam karya tari mereka. Keempat indikator tersebut adalah: (1) Pola garapan tarinya, (2) Bentuk penyajiannya, (3) Tipe dari, dan (4) Orientasi garapan. Setelah menelusuri kesembilan karya dari Sembilan Koreografer Mahasiswa Jalur TA di Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang ditemukan fenomena kontemporer lebih dominan berkembang dalam karya tari mahasiswa tersebut.

Sesuai hasil penelitian yang telah dipaparkan rata-rata mahasiswa Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang memiliki pola garap abstrak, naratif, dan naratif teatrikal. Ketiga pola garap ini berindikasi menghasilkan bentuk karya yang kontemporer, karena karya-karya tersebut tidak berpola liris atau ritme yang konstan dari pola irama gerak maupun pola irama musik. Dimana dalam karya-karya tersebut musik tidak lagi menjadi melodis. Di sisi lain bentuk penyajian dan orientasi sudah jelas menyatakan tari karya mahasiswa tersebut bersifat kontemporer, yaitu berorientasi modern tradisi kontemporer atau modern kontemporer.

Penyebab Kecendrungan Mahasiswa Menggarap (Menciptakan) Karya Tari Kontemporer

Aspek Pengaruh Dosen

Dosen adalah seseorang yang memiliki kekuasaan dan wibawa serta menjadi panutan ataupun tauladan bagi mahasiswanya. Dengan begitu menurut Ninon Syofia (2006: 21 April) bahwa dosen karena begitu karismatiknya, apalagi dia juga seorang yang berkarir sebagai seniman dapat mempengaruhi jalur pikiran mahasiswanya dalam berkarya.

Begitu juga pendapat Mairita (2006: 9 Juni) bahwa mahasiswa cenderung mendewakan dosen yang dianggap karismatik atau yang menurut mereka dapat diteladani. Sehingga fenomena tersebut terbawa-bawa dalam karya mereka. Andai dosen tersebut seorang seniman tari yang populer dan mendapat tempat di masyarakat, maka banyak diantara mahasiswa yang mengidolakanpun terbawa gaya dosen tersebut. Andai dosen tersebut cenderung berkarya kontemporer, mahasiswapun mengikuti trend kontemporer tersebut.

Aspek Pengaruh Karya-Karya Seniman Tari Sumatera Barat

Pengaruh karya-karya tari seniman Sumbar juga ikut mempengaruhi kecendrungan mahasiswa berkarya dalam bentuk tari kontemporer. Apalagi semenjak 1983 dengan adanya Tom Ibnur dan Deddy Luthan menggarap tari kontemporerer, yang keduanya adalah seniman tari tradisional asal Sumbar menyempatkan diri memberi worshop teknik tari Modern dan Koreografi di Sumatera Barat. Selanjutnya wabah kontemporer secara perlahan merasuk dalam koreografer muda Sumatera Barat, pada masa itu Ery Mefri. Eri Mefri dikenal dengan karya erotismenya yang vulgar. Kemudian berlanjut dengan Ibu Gusmiati Suid semenjak tahun 1988 setelah beliau hijrah ke Jakarta dan tak lupa pula Kiprah Boy GS dan seniman muda lainnya seperti Indrayuda dan Syaiful Herman.

Fenomena yang begitu mewabah adalah tatkala Gusmiati Suid berhasil dengan misi Tari Minangkabau Kontemporernya di KIAS Amerika Serikat tahun 1990. menurut Bagindo Fahmi (2006: 2 Februari) keberhasilan Gusmiati merupakan era tumbuhnya tari kontemporer di Sumatera Barat, apalagi sepulang dari KIAS Gusmiati sering memberi workshop tentang tari kontemporer, terutama tentang teknik tari. Adanya berbagai bentuk karya tari kontemporer dari seniman Sumatera Barat ikut meransang imajinasi insan tari termasuk mahasiswa. Karena penonton tetap tari kontemporer di Taman Budaya adalah mahasiswa. Dengan keseringan berapresiasi pada gilirannya mahasiswa terinspirasi untuk menghayati, memahami, dan melahirkan bentuk-bentuk tari kontemporer pula.

Menurut Martin (1963: 72) bahwa daya tarik lingkungan tempat tumbuh seniman, ikut mempengaruhi jati dirinya dalam berkarya. Seniman dan lingkungan tidak dapat dipisahkan, ransangan imajinasi awal adalah lingkungan tempat keberadaannya, kemudian baru menjelajah pada wilayah lain.

Sejalan pendapat Martin, Imelda (2006: 12 Februari) menjelaskan bahwa ketika mahasiswa di terobsesi dengan karya-karya kontemporer, karena lingkungan di sekelilingnya berkutat dengan karya tari kontemporer. Sehingga sampai-sampai ia tidak mampu untuk melahirkan tari kreasi yang berakar pada tari tradisi Minangkabau. Hal ini disebabkan karena dia berlatih menari di Taman Budaya Sumbar dan punya dosen tari yang sekaligus pembimbing karya TA nya, juga seorang seniman tari kontemporer.

Aspek Forum Tari dan Festival

Kota Padang dan kota Padang Panjang adalah dua kota yang menjadi garis tumbuh dan berkembangnya dunia tari Sumatera Barat. Padang Panjang dengan kehadiran STSI-nya, sementara kota Padang dengan Taman Budaya dan Sendratasik FBSS UNP. Kedua kota tersebut sering mengadakan berbagai pertemuan tokoh tari, festifal dan workshop, baik yang berskala nasional dan internasional. Banyaknya forum tari tersebut, termasuk seringnya NGO mengadakan workshop tari dengan peserta mahasiswa dan anggota sanggar tari, pada gilirannya, terjadi transformasi pengetahuan seputar tari kontemporer. Banyak aspek yang ditransfer ke mahasiswa, mulai dari ilmu koreografi sampai pada teknik tari kontemporer yang mutakhir.

Forum tari, mempertemukan berbagai tokoh tari yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri. Forum ini bertujuan saling bertukar informasi tentang trend tari kontemporer, maupun tentang perkembangan Ilmu Koreografi dan teknik tari masa kini. Dengan seringnya mahasiswa mengikuti berbagai workshop tari dengan berbagai koreografer atau pakar tari dari daerah lain atau manca negara, menyebabkan terjadinya pengayaan bathin dan peningkatan kualitas teknis yang dimiliki. Jujur saja, saat ini setiap forum tari selalu berkutat dengan pola garap kontemporer, berbagai workshop yang digelar, baik di Padang maupu di STSI Padang Panjang tak lain tak bukan adalah tentang tari kontemporer. Fenomena ini berdampak pada kecendrungan mahasiswa untuk melakukan hal yang sama dalam karya cipta tari mereka.

Para koreografer kontemporer bebas berekspresi. Hal lain adalah lebih bersifat individual, artinya pertanggungjawaban karya lebih kepada pribadi si penciptanya. Dan koreografer tidak perlu memikirkan tentang filosofi etnik tertentu, ataupun estetika etnik tertentu. Yang penting bagaimana seorang koreografer sanggup merefleksikan gagasannya lewat gerak tari, dan ekspresi yang didukung oleh ornamen pendukung lainnya. Kebebasan-kebebasan seperti ini yang selalu dibicarakan dan diajarkan dalam forum-forum tari, apalagi dengan melihat lansung karya tari tersebut dalam festival tari. Daya tarik ini yang memacu kecendrungan mahasiswa lebih memilih menggarap tari dalam bentuk kontemporer. Karena dengan jiwa muda mahasiswa merasa bebas berekspresi tanpa ada tekanan, jiwa muda ini dengan ada ransangan institusi dengan cepat menyalin berbagai persoalan seputar tari kontemporer.

Simpulan dan Saran

Simpulan

Fenomena kontemporer muncul ditengah-tengah karya mahasiswa jalur TA, baik di Sendratasik FBSS UNP, maupun STSI Padang Panjang disebabkan oleh faktor: (1) Pengaruh dosen baik pengaruh karismatiknya maupun pengaruh karya-karyanya, (2) pengaruh adanya berbagai karya tari seniman Sumbar seperti Gusmiati Suid, Ery Mefri, Boy GS, Indrayuda, Syaiful Herman, (3) Adanya berbagai pelatihan atau workshop tari, baik yang diadakan oleh pemerintah (Taman Budaya) NGO seperti Nan Jombang Group, WDA West Sumater, Tantra Dance Theatre maupun Dewan Kesenian Sumbar dan Padang, (4) Adanya kebebasan berkarya bagi mahasiswa. Bentuk-bentuk kontemporer ini dapat ditemui dalam karya mahasiswa jalur TA, dan diamati melalui: (1) Pola garapannya, (2) Bentuk penyajian, (3) Tipe tari, dan (4) Orientasi garapan. Keempat indikator ini menjadi acuan dalam melihat fenomena kontemporer dalam karya tari mahasiswa jalur TA.

Tari kontemporer semenjak dekade 1983 hingga saat ini sudah merebut pasar penonton terutama pada segmen mahasiswa seni. Karena mahasiswa seni mempelajari berbagai bentuk tari dan perkembangannya. Mau tidak mau, mereka harus mengikuti perkembangan dunia tari apapun, termasuk tari kontemporer. Pengaruh nama besar koreografer tari kontemporer begitu tersohor (populer), pada gilirannya meransang mahasiswa untuk mengikuti langkah seniman besar tersebut. Seperti halnya Gusmiati Suid. Kecendrungan ini terlihat nyata di Perguruan Tinggi Seni.

Selain dari pada itu mahasiswa memandang tari kontemporer merupakan tempat kebebasan seorang seniman mencurahkan segala refleksi dalam ekspresi pribadinya. Dalam tarian kontemporer tidak ada kekangan untuk berkreatifitas. Apapun yang digarap atau diciptakan oleh seorang seniman, sah-sah saja. Tidak ada aturan yang baku dalam tari kontemporer. Sebab itu kekuasaan individu memegang peranan penting dalam karya tari kontemporer. Adanya pengaruh lingkungan tari kontemporer yang begitu kuat mengelilingi keradaan mahasiswa di kampus, mau tidak mau menyeret mereka untuk ikut terlibat dalam percaturan dunia tari kontemporer. Apalagi dewasa ini dalam berbagai workshop tari di lingkungan akademik sering mengetengahkan persoalan teknik dan pola garap tari kontemporer.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut: Diharapkan pertumbuhan tari kontemporer perlu mendapat arahan yang benar oleh dosen tari di Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang. Selain itu, disarankan untuk keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan dunia tari di Sumatera barat, Perguruan Tinggi Seni seperti Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang tidak terlalu terfokus dalam memberikan pemahaman pada tari kontemporer, juga perlu diperhatikan masalah tari monumental. Melihat lambatnya laju evolusi tari monumental, perlu kiranya menjadi bahan pemikiran dosen di perguruan tinggi seni.

Diharapkan adanya peningkatan kualitas dosen dalam membimbing mahasiswa jalur TA, sehingga hasil yang dicapai lebih maksimal. Di sisi lain diharapkan mahasiswa, baik Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang, tidak terlalu terpaku pada figur dosen dalam berkarya, terutama masalah karya tari kontemporer, karena karya tari kontemporer sangat individual, maka perlu mencari identitas diri (jati diri) sendiri.

.

Pustaka Acuan

Andra, Joni. 1997. "Proses Koreografi Tari Kunci Karya Ery Mefri". Laporan Penelitian. Yogyakarta: FPBS IKIP Yogyakarta.

Arbi, Alfar. 1999. Urai Kerai Suatu Tarian dalam Ritual Pengobatan Pada Masyarakat Mentawai. Padang: Taraju.

Astuti, Fuji. 2003. "Performansi Perempuan dalam Seni Pertunjukan Minangkabau Suatu Tinjauan Gender" Laporan Penelitian. Padang­Lemlit UNP.

Bogdan, Robert C, dan Biklen. 1982. Qualitatif Research of Education Theory and Methods. Boston‑ Allyn and Bacon, Inc.

Haberman, Martin. 1981. Tari di Lingkungan Akademik (Terjemahan Ben Suharto). Yogyakarta: ISI Yogyakarta.

Hidayat, Robby. 1994. "Fenomena Koreografi Kontemporer Indonesia". Volume IV Tahun I Januari 1994. Jurnal Seni: ISI Yogyakarta.

Humprey, Doris. 1983. The Art of Making Dance. New York: Memorial Foundation.

Juprianto. 1999. “ Globalisasi Dari Ideologi Baru Menuju Peradaban Baru”. Padang : Pusat Kajian Salimbado

Martin, John. 1963. The Modern Dance. New York: Horizon.

Moleong, Lezy. J. 1989. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.

Murgianto, Sal. 1983. Koreografi Pengetahuan Dasar Komposisi Tari. Jakarta: Program Pengadaan Buku Dikmenjur, Depdikbud.

_____________.1993. Ketika Cahaya Merah Memudar Sebuah Kritik Tari. Jakarta: CV Deviri Ganan.

Sepriono. 2000. Transformasi Budaya Pinggiran ke Budaya Massa. Padang: Taraju.

Soedarso. 1992. Seni Rupa dalam Perubahan, Yogyakarta.‑ Institut Seni Indonesia.

Spradley, James. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta; Tiara Wacana.

Widaryanto, Fransiscus. 1993. Evolusi Srimpi Renggowati. Surakarta: MSPI.

Wismayati, VE. 1992. "Bagong Memang Gendeng: Suatu Tinjauan Koreografl". Laporan Penelitlan. Yogyakarta: FPBS IKIP Yogyakarta

Yuda, Indra. 2003. "Spirit Tradisi dalam Karya Tari Kontemporer". Makalah (Artikel) Disampalkan Pada Diskusi Tari di Etnomusikologi USU Medan.

__________.1993. Tinjauan Koreografis Tari Piring Koto Anau Sebagai Salah Satu Tari Tradisional di Sumatera Barat". Laporan Penelitian. Yogyakarta: Komunitas Karang Malang.

Read More......

Sabtu, 06 Juni 2009

Ma ancak sebagai Dasar tari Minangkabau

Ma ancak atau mancak adalah istilah yang digunakan dalam sasaran Pencak silat atau perguruan Pencak silat di Minangkabau masa lalu. Mancak ini biasanya dibawakan oleh para murid-murid Silat dengan tujuan untuk memperindah gerakan silat dan melatih kelenturan tubuh, selain daripda itu juga berperan sebagai refleksi menghafal jurus-demi jurus. Dengan seringnya murid-murid mamancak (menari) dengan sendirinya gerakan silat dan hafalan jurus mereka akan semakin lancar. Dan karena kegiatan ini semakin dibiasakan oleh pesilat tersebut, maka lama kelamaan kegiatan ini menjadi sebuah permainan di dalam sasaran atau perguruan Pencak Silat tersebut. Sehingga Mamancak atau tari Silat ini menjadi sebuah budaya dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Bermula dari sinilah tari Minangkabau berasal, karena pada awalnya yang menjadi kreator tari dan penarinya adalah tokoh-tokoh perguruan Pencak silat, dan secara adat-istiadat Minangkabau masa lalu perempuan tidak dibenarkan untuk berlatih silat apalagi menari, karena kegiatan tersebut dianggap seperti mempertontonkan diri. Perempuan di Minagkabau masa lalu adalah sebagai pemilik rumah gadang dan rekan tempat berdiskusi mengenai keturunan dan harta pusaka oleh saudara laki-laki, dan bila mana dia berlaku secara bebas dalam pergaulan berarti perempuan tersebut disebut perempuan jalang, dan merupakan sebuah malau bagi keluarga. Oleh karena itu yang mamancak hanya laki-laki.

Sebab itu, para pendekar masa lalu dia selain sebagai tokoh silat juga sebagai tokoh adat dan budaya atau seniman tari. Karena itu kesan atau gaya tari Minangkbau berkesan seperti jurus-jurus Pencak silat, padahal tari Minangkabau bukanlah jurus silat atau berasal dari Pencak silat. Dan dalam tulisan ini saya nyatakan dengan tegas bahwa tari Minangkabau bukanlah berasal dari Pencak silat. akan tetapi para penciptanya waktu dulu adalah para pesilat, secara tidak langsung pengalaman vocabulary gerak mereka berkisar dari sekitar gerak pencak silat, oleh karena itu kesan yang tampak dalam gerak tari mereka adalah nuansa kewaspadaan, ketegasan dan kekuatan serta berupa bentuk-bentuk gerak se4rang dan belaan. namun berbicara tari Minangkabau bukanlah berasal dari Pencak silat, karena tidak satupun gerak tari tersebut berasal dari pecahan gerak Silat.

Dalam proses penciptaan tari seorang koreografer tergantung pada wawasan bocabulary gerak yang dia miliki, kalau mereka mengalami pengalaman di daerah Jawa walaupun mereka orang Minangkabau secara tidak langsung mereka akan mampu memodifikasi gerak tari Minang dengan gerak Jawa atau meminangkan gerak Jawa, batas pengalaman pendekar sebagai seniman tari masa itu hanya berada diseputaran wilayah pencak silat Minang sja, secara otomatis tentu rangsangan kinetetis mereka hanya itu, dan akhirnya gerakan tarian mereka seperti kepencak-pencak silatan.

Read More......

Sabtu, 20 Desember 2008

orientasi spirit tradisi dalamkarya tari kontemporer pada pembelajaran koreografi tari

ORIENTASI SPIRIT TRADISI

DALAM KARYA TARI KONTEMPORER

PADA PEMBELAJARAN KOREOGRAFI TARI


Oleh: Indra Yudha

ABSTRAK

Dewasa ini perkembangan dan pendidikan tari tidak saja sebatas estetika dan artistik, akan tetapi tari telah jauh melangkah seiring dengan terjadinya perubahan sosial budaya dan pertumbuhan ekonomi yang semakin melaju, apalagi perkembangan sains dan teknologi ikut menyeret perubahan dalam ilmu dan pengetahuan tari. Dewasa ini dalam pembelajaran koreografi di lingkungan akademik, pola garapan dalam koreografi tari tidak saja sebatas konvensional yang hanya sekedar penataan gerak demi gerak, tetapi tari juga merupakan media kritik maupun media ekspresif dari senimannya. Tari saat ini bukan saja menjadi milik komunitas tertentu (tradisi) akan tetapi tari merupakan milik individual. Dunia tari yang bersifat individual tersebut dikenal dengan tari kontemporer. Ada kecenderungan di Indonesia dewasa ini, walaupun tari tersebut berbentuk pola garap kontemporer, akan tetapi dia tidak terlepas dah idiom atau spirit tradisi yang dimiliki oleh koreografi. Fenomena ini menjadi trend baru dalam pengetahuan dan pembelajaran koreografi, dalam konteks karya tari kontemporer Indonesia, yang dikembangkan oleh akademisi seni.

Kata Kunci : Tari Kontemporer, Spirit Tradisi dan Pola Garap.

I. Pendahuluan

Perkembangan pengetahuan dan pembelajaran koreografi pada pendidikan seni, maupun oleh seniman pelaku dewasa ini, seringkali membuat orang jadi tercengang‑cengang, takjub, bahkan ada yang tak mampu lagi menangkap spiritnya. Perubahan demi perubahan akan nampak jelas kalau menyimak pada lima puluh tahun yang lalu, seratus tahun yang lalu atau masa yang lebih lama lagi. Kelangsungan sebuah kesenian berjalan seperti mengiring jenasah seorang raja, semuanya tunduk dan kenikmatan pun dijaga (Juprianto, 2000:20).

Pada waktu yang lampau, bukan berarti kebudayaan itu tidak berkembang, hanya saja perubahannya tidak begitu terasa mengejutkan. ­Gejolak perasaan (batin) dan tingkah laku manusia terkungkung (imanensi) oleh berbagai sistem dalam kehidupan yang merupakan benteng untuk mempertahankan keselarasan dan keseimbangan kosmos. Dalam kehidupan yang dikembangkan bukan bentuk ujud laku (kegiatan) atau bentuk fisik, tetapi eksistensinya yang selalu dimantapkan. Hakikat perubahan adalah evolusi dan bukan revolusi. Hal ini yang terjadi dewasa ini pada pengetahuan koreografi yang dilakukan dalam dunia pendidikan tari.

Akan tetapi pada kenyataannya, kesenian tidak pernah berhenti atau mandhek, tetapi selalu tunduk pada suatu gerakan (perubahan); yang lama akan hilang atau berubah untuk diganti dengan yang baru. Setiap perubahan kebudayaan (kesenian) memiliki hidup dan spirit yang memberi arti atau makna kepada manusia, dengan menempatkan kedudukannya dalam kosmos dan dengan menegaskan fungsinya dalam hubungannya dengan hidup itu sendiri. Adanya berbagai gejolak perubahan yang terjadi itu kesenianpun nampak pertumbuhan yang begitu pesat dalam budaya temporer (Eru,1992,73).

Perubahan dalam dunia pendidikan seni, seperti halnya seni tari adalah wajar. Karena usaha itu merupakan suatu bukti adanya semangat untuk membentuk atau mencipta, dengan mencipta berarti melakukan suatu perubahan,hanya saja dalam berbagai perubahan selalu memunculkan gaya dan warna yang mengiringi perubahan tersebut, hal ini mungkin terlihat pada pola garap, trend, teknik dan gagasan yang menembus batas‑batas geografis dan kultural. Fenomena tersebut terlihat aktual dalam pembelajaran koreografi yang dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi seni dewasa ini.

Kehadiran sebuah perubahan dalam seni tari berarti menunjukan suatu penawaran nilai, baik teknik ataupun nilai estetik. Penawaran nilai itu senantiasa diikuti oleh adanya sebuah kehadiran "ujud bentuk” (form and structure). Bentuk-bentuk yang hadir tidak selamanya sama atau serupa dengan yang lama atau pernah ada, tetapi bisa jadi hadir sangat spektakuler dan bersifat menantang.

Kehadiran bentuk dan nilai yang ditawarkan ilmuwan tari serta seniman pelakunya pada setiap waktu, senantiasa disemangati oleh zamannya. Artinya ide serta gagasan merupakan suatu reaksi terhadap sesuatu yang menyentuh perasaan, dengan segenap sensitifitas (kepekaan) dan kreativitasnya dalam melontarkan tanggapan. Hal ini ditegaskan oleh Lois Elfeldt dalam bukunya : A Primer for Choreographers bahwa kehadiran sebuah karya tari adalah suatu ungkapan, sebuah pernyataan, dan sebagai ekspresi dalam gerak yang memuat komentar-komentar terhadap realitas, dimana image-image gerak yang hadir membuat manusia lebih sensitif terhadap realitas (Andra, 1994:80)

Menyimak hal tersebut ternyata setiap kehadiran tari selalu membawa realitasnya sendiri. Pada setiap zaman, bahwa pada sebuah daerah selalu membentuk realitas sesuai dengan kondisi dan situasi. Misalnya sebuah desa mempunyai perbedaan‑perbedaan realitas yang esensial dengan kota. Sementara kota kecil akan berbeda realitasnya dengan kota besar (metropolitan). Sudah barang tentu pernyataan‑pernyataan kinetik dari seniman yang berada di daerah‑daerah yang satu dengan yang lain akan mempunyai atau membawa perbedaan ungkap, pernyataan atau ekspresi dalam menanggapi realita lingkungannya.

Perbedaan berdasarkan tempat atau ruang itu merupakan ungkapan yang didasarkan atas tanggapan dari kondisi geografis atau dibentuk oleh sifat etnisnya. Di sisi lain perbedaan ungkap yang ditimbulkan atau perbedaan masa atau waktu adalah hasil respon terhadap realitas sosial.

Realitas sosial memiliki berbagai spirit dan nilai‑nilai kultural, yang bagaimanapun perubahan terjadi melingkupi kebudayaan tersebut, namun wawasan kultural dan spirit kultural akan selalu hadir dalam bentuk karya manusia tersebut. Secara faktual, apalagi dewasa ini kesenian yang dilahirkan oleh seniman lulusan akademik berorientasi pada siklus nilai‑nilai tradisi.

Trend spirit tradisi dalam dunia seni temporer dewasa ini menjadi konsep siklus dan orientasi pola garap dalam suatu perubahan budaya. Bagaimanapun seorang seniman tidak bisa begitu saja ditarik dari akar budaya yang melingkupinya, dimana budaya tersebut selama ini telah memberi inspirasi dan kekayaan estetis kepadanya, untuk itu pantas rasanya sebuah seni kontemporer memiliki spirit tradisi dari yang selama ini menaungi kehadiran kreator tersebut.

Fenomena tersebut akhir‑akhir ini yang dikembangkan oleh sebagian pengajar koreografi di perguruan tinggi seni, para pengajar koreografi mencoba kembali merevitalisasi seni tari tradisi sebagai orientasi pola garap dalam penciptaan karya tari kontemporer.

II. Pengertian Seni Kontemporer

Seni kontemporer merupakan sebuah klasifikasi tentang seni yang lebih bersifat pada bentuk, ruang dan waktu serta didorong oleh selera yang sangat individual, baik bagi komunitas penonton maupun seniman kreator sendiri. Seni kontemporer selalu bergerak seirama dengan perkembangan waktu, seni kontemporer juga membebaskan dirinya dari ruang tertentu dan masuk kepada ruang lain yang dianggap relevan oleh pribadi senimannya.

Dalam konsep seni kontemporer, sebuah karya tidak terikat oleh sebuah aturan yang baku dan kaku. Misal saja seorang seniman Batak yang melahirkan sebuah karya tari, tidak harus terpaku dengan aturan‑aturan yang berlaku dalam tarian Batak. Ia bebas mengembara, sesuai bentuk apa yang ingin diminati oleh koreografer tersebut (Wijaya, 1998:25).

Dalam dunia kontemporer juga tidak terikat dengan seniman yang universal, seperti halnya balet, ia juga bebas melepaskan kaidah‑kaidah disiplin tari balet, apabila memang bentuk tersebut mempunyai arti baginya. Artinya dalam masalah bentuk, seni kontemporer ataupun tari kontemporer sangat kaya akan pilihan, dan ia tidak terikat akan satu bentuk pijakan, maupun patron‑patron yang baku. Malah sebuah tari kontemporer cenderung melahirkan bentuk lintas budaya atau intercultural (Yuda, 2001:14)

Di samping itu, tari atau seni kontemporer selatu bersifat aktual. Artinya persoalan atau gagasan yang dituangkan dalam tari kontemporer selalu baru atau kekinian, baik cerita, bentuk maupun pola garap dari sebuah koreografi. Tari kontemporer di samping aktual juga bersifat kontekstual. Persoalan yang selalu diusung oleh koreografer pada dasarnya bersifat humanitis atau selalu berkisar tentang kehidupan kekinian. Hal‑hal yang disorot terdorong oleh persoalan kemanusiaan. Seorang koreografer yang berhasil adalah seorang yang dapat mengikuti zamannya, dan arif dengan persoalan atau fenomena‑fenomena yang terjadi di sekitarnya.

Sering koreografer kontemporer berbicara masalah sosial, politik maupun budaya ataupun nilai‑nilai yang telah mengalami degradasi dalam kehidupan masyarakat. Seorang koreografer kontemporer di samping kreator ia sebaiknya juga seorang kritikus terhadap persoalan nilai‑nilai yang berkembang di sekitarnya.

Tari kontemporer bukanlah sebuah karya tari yang bersifat wester­nisasi, dalam artian harus berorientasi dalam bentuknya (form) ke dunia barat. Tari kontemporer tidak perlu berorientasi ke dunia barat, karena kebanyakan di dunia timur telah tersedia berbagai bentuk vocabulary yang dapat menjadi sumber garapan. Tari kontemporer bukan tari modern yang berarti barat, tetapi modern dalam artian pola garap, bentuk dan cerita yang dapat diambd dari tempat mana saja, termasuk daerah asal koreografer itu sendiri, maupun secara bentuk dia berangkat dari etnik dia, namun ceritanya bisa saja dalam bentuk universal. (Andra,199425)

Tari kontemporer, adalah suatu ideologi inovasi yang dapat menyuara­kan pembebasan individual dalam berkreativitas. la tidak dapat lagi dikung­kung oleh segala patron tradisi, maupun patron‑patron westernisasi, akan tetapi ia terlahir dari suatu perenungan yang aktual sesuai kondisi yang melingkupinya. Berbicara masalah kontemporer kita tidak lagi berbicara masalah geografi, maupun etnik, kita tidak bagi berbicara masalah kultur tertentu atau negara, yang ada adalah karya seorang individu yang aktual, konseptual sesuai dengan zamannya dan berbicara masalah lingkungan sekitarnya, yang sifatnya juga sesaat, terus bergulir lagi dalam bentuk inovasi lagi (Yuda, 2001: 23).

III. Spirit Tradisi dalam Tari Kontemporer

Perubahan yang terjadi dalam dunia tari seiring dengan pergolakan dunia yang mengglobal. Pergolakan dunia yang global, membuat segala informasi dan aktivitas kehidupan menjadi seirama diberbagai belahan dunia. Dengan begitu dunia taripun terseret ke dalam koridor globalisasi yang merupakan sebuah ideologi penyeragaman sosial dan politik yang berimbas juga pada berbagai segmen budaya.

Pergolakan budaya dewasa ini begitu mengalir ke berbagai sektor kehidupan, seperti bahasa, ekonomi, teknologi, gaya hidup dan kesenian yang bergejolak begitu deras. Tari tidak lagi sebatas bergoyang atau berjoget, tidak lagi sebatas menyuguhkan teknik gerak yang artistik dan dinamik, tari tidak lagi sebagai hobi atau hanya berfungsi sebagai upacara tradisi dalam suatu masyarakat tertentu, namun tari telah merasuk ke dalam sistem kehidupan manusia yang kompleks.

Pada era kehidupan yang kompleks sekarang, tari sudah berada pada level tertentu dalam ruang lingkup sosial budaya. Pada ruang politik tari sudah berperan dalam performing arts. Sebagai performing arts, tari dapat saja memobilisasi masa dalam bentuk konteks apapun Tari pada level ini, berusaha menjangkau segment intelektual manusia dalam bentuk pemaparan kritik terhadap persoalan sosial, yang terjadi disekitar kehidupan dunia tari tersebut.

Secara bentuk, tari dewasa ini cenderung ingin kembali pada penjelajahan nilai‑nilai tradisi lama. Kembali ketradisi lama bukan dalam artian kembali kebelekang pada persolan tradisi yang sangat berorientasi pada pola garap seadanya. Tetapi kecenderungan tersebut terletak pada pemanfaatan idiom tradisi untuk digarap dengan pola garap yang baru. Pola garap yang baru tersebut dalam pembelajaran koreografi di lingkungan akademis, dapat memberikan kebebasan bagi mahasiswa maupun seniman akademik untuk merefleksikan berbagai gagasannya, baik dalam bentuk isi maupun ornamen yang terdapat dalam karya tari kontemporer mereka.

Nuansa tradisi sering muncul dalam karya tari kontemporer yang diciptakan oleh mahasiswa dalam pembelajaran koreografi di lingkungan akademik, akan tetapi secara nilai atau esensi dari karya tersebut tidak lagi membicarakan masalah sosial dalam kehidupan tradisi dari suatu masyarakat tertentu. Malah terkadang inti persoalan atau cerita dari tari tersebut sama sekali tidak menyinggung konteks tradisi, yang ada hanya dorongan untuk pemanfaatan vocabulary tradisi sebagai sumber garapan. Hal inilah yang semakin memperkaya nilai artistik dunia tari kontemporer Indonesia masa kini, yang diproduksi berdasarkan eksplorasi dunia akademis melalui evoiusi dan inovasi dalam pembelajaran koreografi tari.

Akan tetapi lebih unik dan menarik dari pergolakan tari kontemporer tersebut dilakukan oleh para pakar di dunia barat. Dewasa ini tokoh dan seniman tari di dunia barat semakin menjelajahi nuansa ketimuran. Terjadi apa yang disebut siklus, yakni kembali ke bawah, artinya kembali ke tradisi, yang seiring disebut post modernisme.

Dalam bentuk tampilan seni tari kontemporer yang menggejala di Indonesia selalu saja spirit atau roh tradisi ini muncul. Hal tersebut dinakhodai oleh Sardono W. Kusumo dan Bagong Kusudiarjo serta Gusmiati Suid hingga generasi muda sekarang ini. Dari berbagai event festival dan pagelaran, roh dan nuansa tradisi selalu muncul dalam berbagai bentuk tampilan baru.

Seiring kalangan seniman tari lupa bahwa seni tari kontemporer bukanlah seni adopsi dari bentuk tari modem yang ada di dunia barat. Yang ada adalah pola garap yang baru tentang khasanah tari tradisi yang lebih bebas menjelajah dan berimprovisasi serta berkolaborasi dengan berbagai segmen.

Modern bukanlah bertumpu dengan menyalin bentuk budaya barat, tetapi berpikir secara intelektualitas tentang pembaharuan pada budaya sendiri. Tari kontemporer di Indonesia sangat kaya dengan corak dan warna. Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke memiliki sumber garapan untuk bejuta‑juta karya tari kontemporer pada masa kini dan masa datang.

Tari kontemporer membebaskan koreografernya dari tempat berpijak, sejauh ia memiliki wacana atau wawasan vocabulary tentang bentuk tersebut. Malah sebuah karya tari kontemporer yang saya saksikan dalam gelanggang tari Sumatera 2003 di Padang terasa lucu dan hambar, yang ditampilkan oleh seorang koreografer muda dari Bandung. la mencoba menjelajahi nuansa barat dengan konteks cerita Sangkuriang, padahal kekuatan teknik yang ia miliki sama sekali tidak menguasai teknik tari barat tersebut. Akhirnya tariannya terasa agak lucu, karena teknik dan rasa (ekspresi gerak) tidak bisa dia adopsi sedemikian rupa seperti orang barat menari. Padahal ia akan lebih berhasil seandainya ia memperbaharui tradisinya sebagai spirit yang ia kembangkan dengan ornamen baru. Di sini yang saya katakan sejauh koreografer menguasai bentuk dan nuansa ekspresi gerak, dari mana dia berangkat mesti sesuai selera dan keinginannya serta relevan dengan konsep garapannya.

Lebih menarik adalah karya tari Gorga koreografer Iskandar dari Medan dan Alfiandri serta Hasminda Fitri, yang keseluruhannya membawa spirit tradisi, baik dalam bentuk maupun isi. Spirit tradisi bukan berarti memindahkan bentuk asli ke dalam teks tari atau tampilan karya tari, akan tetapi masalah tradisi tersebut menjadi acuan yang akan diolah atau digarap dalam karya tari kontemporer selanjutnya. Persoalan tradisi tersebut dijadikan bahan eksplorasi dan eksploitasi dalam karya kontemporer. Pada gilirannya seni tradisi tersebut menjadi baru dalam koridor kontemporer, yang lebih bersifat individual. Artinya bersandar pada komunitas untuk melahirkan gagasan pribadi yang akan dikembalikan ke komunitasnya.

Banyak koreografer kontemporer di dunia barat yang memiliki spirit tradisi, sebut saja Isadora Duncan, Martha Graham, Fina Baus dan Eliza Monte. Koreografer kondang ini menjelajahi fenomena tradisi sebagai roh karya tari kontemporer. Apalagi di Indonesia banyak sekali kita jumpai koreografer senior yang mengambil spirit tradisi. Malah trend spirit tradisi menjadi milik dunia tari kontemporer Indonesia masa kini.

Dunia kontemporer dewasa ini menjadi kajian daiam ideologi berbagai cabang seni seperti halnya seni tari, dimana pengetahuan koreografi sangat merespon konsep‑konsep kontemporer dalam pola garap maupun teknik gerak. Aktifitas ini menjadi trend bagi dosen‑dosen tari (pengajar) pada perguruan tinggi seni di Indonesia dan di berbagai belahan dunia.

Dunia akademik seni pada masa kini merupakan pelopor dalam berbagai inovasi konsep tari kontemporer. Realita ini disebabkan karena dunia akademik memiliki laboratorium dan studio yang refresentatif untuk melakukan berbagai eksplorasi dan eksperimen, yang dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa melalui berbagai penelitian dan pengkajian secara ilmiah, dalam ruang dan waktu yang berkesinambungan dan konsisten. Sehingga perguruan tinggi seni merupakan suatu barometer dan peletak pondasi bagi tumbuh dan berkembengnya tari kontemporer masa kini di Indonesia.

IV. Penutup

Tari Kontemporer bukanlah tari yang bersifat komunal, akan tetapi tari yang bersifat individual. Tari yang bersifat kontemporer membebaskan koreografer untuk berkreafivitas menjelajahi ruang dan waktu, yang tidak terikat dengan suatu bentuk tertentu yang telah baku. Tari kontemporer adatari sebuah karya tari kontekstual dan juga aktual dan bersifat temporer untuk berganti lagi dengan bentuk yang lebih baru lagi.

Tari kontemporer bukanlah harus tunduk dan berbentuk budaya barat, tapi ia bebas sesuai kemampuan wacana dan wawasan koreografer. Ia dapat saja bersumber pada satu atau lebih tradisi yang ada kemudian berakulturasi. Sebuah tari kontemporer yang baik alangkah baiknya bersumber kepada kemampuan koreografer menangkap gejolak dan budaya lingkungan yang lebih diakrabinya.

Trend tari kontemporer Indonesia dewasa ini adalah mengangkat spirit tradisi. Banyak koreografer senior dan generasi muda Indonesia dalam berbagai festival dan pergelaran bertumpu dari tradisi. Sumber‑sumber garapan tradisi tidak akan habis‑habisnya untuk berjuta‑juta karya tari untuk kini dan akan datang.

Ada sebagian koreografer menganggap bahwa tari kontemporer adalah milik dunia barat, jadi setiap bentuk tarian tersebut harus ada gerak tari barat di dalamnya. Ini adalah pemikiran yang keliru terhadap tari kontemporer. Tari kontemporer tidak terikat dengan bentuk dasar tari barat, kalaupun ia ada dalam sebuah karya tari itupun sah‑sah saja. Namun bukan harus seperti pemikiran tersebut di atas.

Tari kontemporer lebih dsebabkan oleh inovasi yang dilahirkan oleh koreografer dari dirinya sendiri, sesuai pengalaman batin yang diajarinya. Tari kontemporer memiliki warna gaya serta teknik tersendiri menurut individu-individu koreografernya.. Dalam tari kontemporer, kita berbicara masalah kepribadian koreografernya, baik tentang ilmu pengetahuan, intelektualitas, estetis dan etis serta logisnya.

Dewasa ini perkembangan dunia tari kontemporer bukan saja mengisi ruang‑ruang festival pada level tertentu saja, namun dunia tari kontemporer secara pedahan sudah mulai digandrungi pada kalangan generasi muda. Sebab itu tari kontemporer tidak lagi milik komunitas tertentu saja, seperti hainya seniman. Pada berbagai gedung pertunjukan di Indonesia seperti Gedung Kesenian Jakarta, Taman Budaya Yogyakarta, STSI Surakarta, Taman Budaya Padang dan Art Centre Denpasar, namun tari kontemporer sudah menjadi komoditi pada. kalangan masyarakat menengah ke atas.

Tari kontemporer selalu saja membawa perubahan dan fenomena baru dalam setiap kemunculannya di atas panggung. Dia selalu tampil dalam bentuk kemasan dan garapan baru, apalagi tari kontemporer dengan namanya kontemporer yang selalu berubah dalam berbagai segi pada setiap konser yang digelar oleh senimannya. Tari kontemporer merupakan media ekspresi bagi seniman untuk menjembatani masyarakat dengan masyarakat maupun masyarakat dengan birokrat dan komunitas lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Andra, Joni. 1994. Tari Kontemporer dan Tradisi Minangkabau. Yogyakarta : FPBS IKIP Yogyakarta

Eru, P. Wismayanti. 1992. Golek Menak dan Transformasi Budaya. Yogyakarta : FPBS IKIP Yogyakarta

Jupianto. 2000. Tari Masa Kini dan Perubahan Sosial. Padang : Taraju.

Wijaya, Putu. 1998. “Fenomena Kontemporer”. Jurnal Seni ISI : Vol IV. ISI Yogyakarta

Yuda, Indra. 2001. Tari dan Permasalahannya Dalam Perubahan Sosia Budaya. Padang : PPS UNP

Read More......

Kamis, 17 April 2008

JENIS KRITIK SENI

JENIS KRITIK SENI


Berdasarkan jenisnya kritik seni dapat dijabarkan dalam 3 jenis, dimana penggunaan ke tiga jenis tersebut tidak sama porsinya dalam realitas para pengkritik menggunakannya. Seorang kritikus, mungkin lebih banyak menggunakan dua jenis saja, begitu juga kalangan masyarakat pencinta seni atau para pengamat seni, walaupun dalam taraf pemula.Karena ke tiga jenis kritik seni tersebut ada diantaranya yang kurang bisa dipetik makna yang lebih luas namun dia tetap saja merupakan jenis dari kritik.

Adapun ke tiga jenis kritik seni tersebut adalah : 1} Kritik bahasa sikap, 2} Kritik bahasa lisan dan 3} kritik bahasa tulisan. ketiga jenis ini dalam setiap event pergelaran seni atau pameran seni , artinya baik pada bentuk seni pertunjukan maupun pada seni rupa dan seni sastra, seperti sastra lisan, ketiga jenis kritik seni ini bisa muncul secara bersamaan.

Menarik dalam hal ini, seperti dalam seni pertunjukan, dimana ada saja penonton yang kurang berkenan dengan pertunjukan yang sedang disaksikannya, efek dari rasa ketidak senangan itu terkadang dilakukan dengan sikap , seperti berteriak, tepuk tangan, mondar mandir, dan bersiul atau melakukan kegiatan yang bikin heboh atau berisik, denagn tujuan seperti protes atas ketidak sukaan dia dengan pertunjukan tersebut. Kegiatan seperti tersebut dinamakan dengan kritik bahasa sikap.

Sementara kritik seni dalam bahasa lisan sudah barang tentu disampaikan dengan menggunakan retorika, walaupun nantinya penyampaiannya terstruktur atau tidak. Bahkan apakah mendalam atau dangkal, itu semua tergantung kepada kemampuan dia mengkritik. Namun tidak semua pengkritik disebut oleh masyarakat seni sebagai kritikus seni. Biasanya kritik bahasa lisan susah untuk direview atau diulang mengulasnya, namun dia bisa diulang mengulasnya apabila pihak penyelenggara sebuah kegiatan pementasan yang menghadirkan kritikus harus merekam setiap pembicaraan dengan audio atau audio visual, sebagai dokumentasi. Dengan tujuan agar dapat dipertanggung jawabkan, sehingga diskusi atau penyampaian kritik tersebut dapat diulang untuk pedoman bagi orang atau seniman yang dikritik.

Pada sisi lain, kritik tulisan adalah jenis kritik seni yang paling dapt dipertanggung jawabkan, karena dia terdokumentasi dengan jelas, bisa dibasa dan dikupas berulang-ulang. Sehingga kritik tulisan bisa menjadi teori atau pedoman bagi seorang kreator seni yang dikritik untuk membenahi diri dan karyanya pada masa selanjutnya. Ada kalanya seorang kritikus seni hanya bisa berretorika, namun tidak bisa menulis, sebaliknya begitu ada yang mampu menulis namun kurang mampu untuk berbicara.

Struktur Kritik seni jenis tulisan sangat menentukan kualitas karya kritiknya. adapun struktur yang ideal adalah: 1} introduksi, 2} deskripsi, 3} analisis, 4} interpretasi, 5} solusi dan 6} penutup atau simpulan.Struktur tersebut adalah struktur ideal dari tulisan seorang kritikus seni. Tulisan jangan menganalisa bagian - bagian yang lemah saja tapi analisalah secara objektif dan komprehensif { menyeluruh}, artinya sisi positif dan membangun perlu diungkap sebagai motifasi orang yang berada dalam posisi dikritik, inilah karya kritik seni yang objektif.

Read More......